Siapa yang akan merangkul dan mencarikan jalan buat orang-orang yang salah itu?
Jika mereaka belum apa-apa dianggap hina dan cuma aib semata!
Apakah surga hanya buat orang yang selalu bersih dan mulia semata?
Apakah orang hina tidak bisa berubah utuk jadi mulia
Lantas siapa yang mau merangkul meraka? Dan membina mereka.
Kebanggan saya kepada salah seorang wali maksun,Kiyai dan ulama Jawa Timur memang sangat melekat sekali
sebab meraka merupakan inspirasi dalam menerobos ruang yang dianggap hina dan bertentangan, yang diubah menjadi sebuah area yang sangat mulia.
Lihat saja kyia Khoiron yang mampu menjadikan komplek pelacuran manjadi majelis yang penuh dengan barokah dan hidayah . Beliau menyiapkan subuah reflesi ruang jiwa yang mampu menampung dan menyiapkan diri menuju kemuliaan illahiyah yang nyata tanpa pamrih dan embel-embel apa-apa.Yang merupakan wujud jati diri dari amalan wali maksum yang sesungguhnya.
memutus guratan lingkaran pelacuran dengan membentuk generasi muda yang Islami dan khafah yang sesungguhnya.
Beliau selalu berpesan "Profesi pelacur merupakan pekerjaan mereka dan itu cuma bertahan 10 th yang paling lama, biarkan saja, dan kita siapkan setelahnya, serta merdekan generasinya"
Kalimat yang singkat dan penuh dengan kata mutiara itu ternyata mampu memberikan ruang untuk memutus lingkaran setan itu . Terbukti sekarang sudah banyak santri wan dan santri wati didaerah itu. Ini berkat keseriusanya sang Kyai yang telah mengamalkan amalan wali maksum.
Memang secara fisik profesi pelacur itu cuma mampu bertahan 10 tahun saja selebihnya tidak ada nilai jualnya. Karena penampilan dan fisik yang merak jual. Dan jika hal ini di jauhi maka siapa yang akan merangkul mereka untuk menuju jalan yang mulia ini(jalannya ilahiyah rabi).
Saya jadi teringat sang inspirator dan motivator Suralaya Abah Anom yang mendirikan pesantren rehabilitasi narkoba dengan pendekatan dan arspek rohaniah yang luar biasa dari model-model amalan wali maksum yang diterapkan diantaranya mengajarkan Toriqoh bagi setiap santrinya.
Gus Hamim Jazuli (Gus miek) yang mampu menampung kaum jelata dan jalanan serta rendahan, dalam majelisnya yang bernama (Dizkrul Ghofilin / Pengingat orang lupa) dan berupanya merangkul wali maksum untuk membimbing yang lupa.
Sungguh luar biasa metode dan bentuk ajaran yang meraka terapkan. Suatu bentuk syiar yang sesungguhnya yang mampu menghidupkan tempat yang gelap menjadi tempat yang terang benderang sesuai ajaran wali maksum. Inilah ajaran yang sesunggunya " Yang mungkin susah untuk dicontoh bagi sebagian orang alim sekalipun (Kh.Abdul Hamid ,Pasuruan)"
Jalan Hidayah wali maksum tidak selalu ditampak dalam jalan yang kelihatanya mulia saja, namun jalan hidayah terkadang ditampakan dalam keadaan yang manusia pada umumnya menganggap hina . Lihat saja banyak para Wali maksum yang menyembunyikan dirinya dengan kehinaan didunia. Merak bahkan tidak mau tampak mulia dihadpaan orang pada umumnya. Ada yang nyamar cuma jadi orang gila semata . Atu cuma menyamar jadi kakek tua yang ranta yang hina dipandang mata. Namun sesungguhnya kehinaan di mata Manusia belum tentu hina dipandangan Allah S.W.T.
Berikut mungkin bisa menjadikan bahan renungan
Sang wali maksum yang mencari obat takut matiSebut saja namanya si Ahmad, Ahmah adalah seorang pemuka agama yang mempunyai banyak murid didalam majelisnya bisa dibilang wali maksum. Ilmu Thoriqoh wali maksum sudah dia jalani . Namun rasa emosi yang ada dalam dirinya yang seakan-akan takut mati terus menghantuinya. Selama enam bulan dalam beribadahnya kepada sang Rabi selalu ia kucurkan air mata. Kesedihanya akan takut mati terus membayanginya wali maksum tersebut.
Karena ketakutan yang melanda, lantas persoalanya ia utarakan kepada sang guru mulianya wali maksum. Sang guru cuma menjawab . Untuk bisa sembuh dari rasa takut matimu mulai besok kamu silahkan pergi ke komplek pelacuran. Dalam Hati si Ahmad ragu dan bingung takut mati kok malah suruh ke lokalisasi.
Belum sempet menyela Si Amhad suruh memperhatikan ucapak sang guru wali maksum" Mad Liat mulutku ini jika kamu ragu akan ucapanku, ternyata saat dilihat isi mulut sang guru ternyata hanya ada lautan luas yang tanpa tepi"
Dalam hati siahmad malu karena kenapa ia masih ragu akan ucapan sang guru, hakikat kebenaran yang selalu ada dalam keyakinan dan jalan Rabi.
Ke esokan harinya si ahmad langsung pergi ke komplek lokalisasi. Satu persatu ia perhatikan aktifitas yang ada disana dari dijumpainya seorang pemuda yang habis mabuk dan keluar , dari bilik dengan nyanyian dan siulanya.
Dan ada pula keluhan sang pelacur karena sepinya pelanggan yang datang. Namun ada satu yang mengusik diri si ahmad . Dia memperhatikan seorang kakek yang sudah uzur dan tua renta yang habis keluar dari bilik kamar dan dengan wajah yang berseri dan sumringah kegirangan.
Dalam hati dia berfikir bukanya mendekatkan diri kepada Rabi, malah kegirangan ke komplek pelacuran. Hidupnya tiada beban sama sekali ia lakukan, bagaikan anak muda saja.
Dalam hati ia berfikit kualitas iman macam apa aku ini , Aku masih muda tapi aku masih takut mati . Bukankah mati itu hal yang pasti untuk dijalani dari Khodart ilahi.
Bukan ketakutan yang harus dihadapi namun kesiapan lah yang harus dipersiapkan. Saat itu pula rasa takut mati si ahmad sembuh dengan sendirinya.
Mungkin kita masih bertanya makna dari intisari dari ilustrasi diatas?
Wujud dari intisari diatas adalah proses untuk mengenal jiwa yang tanpa memandang yang lain hina, dan mewujudkan proses metamorfosis yang sempurna layaknya kupu-kupu saat menjadi ulat yang tidak mampu terbang hanya merayap sedikit demi sedikit.Proses dimana keberanian menerobos dinding penghalang verbalisme dari kultur agama yang dapat diraih dengan wujud kemerdekaan sifat sufi dan wali maksum yang sesungguhnya. Karena para plaku diatas merupakan wujud dari sifat sufi dan wali maksum yang sejati.


0 Response to "Hidayah Jalan Hina Wali Waksum"
Post a Comment